NGATINAH duduk sendirian di sebuah warung sederhana di kompleks Balai Pemuda, Surabaya, jelang pergantian tahun. Sepiring nasi dan segelas minum terhidang di depannya. Ia makan pelan, sesekali menoleh ke arah gedung yang sebentar lagi dipenuhi cahaya dan suara.
Cahaya dan suara-suara itu tak asing bagi perempuan 68 tahun itu. Bertahun lalu, suara dan sorot lampu warna-warni menerangi dirinya, sebagai lakon panggung. Namun itu lampau. Cerita masa lalu Ngatinah. Ludruk, dunia yang ia geluti, kembang kempis. Meredup tergantikan budaya liyan yang tidak ia pahami.
Malam itu memang ia nantikan. Apalagi kalau bukan pagelaran ludruk, karawitan, teater hingga wayang orang. Bukan sekedar ingin menikmat pagelarannya, melainkan pula membawanya ke lorong waktu di mana dialah yang di atas panggung menghibur penonton sejak lima dekade lalu.
Dari dalam, terdengar riuh persiapan pentas. Ia tak sabar masuk. Segera ia selesaikan kunyahan terakhir nasi yang ia santab malam itu. Wajahnya sumringah begitu memasuki Gedung pertunjukan. Sekali lagi, ia merasakan pahit manisnya berkesenian tradisional dikepungan hingar bingar kota.
“Kecintaan saya pada seni selalu menuntun langkah ke sini. Malam ini saya ingin menonton teman-teman saya tampil. Rindu, rindu sekali rasanya,” aku Ngatinah jujur.
Balai Pemuda bukan sekadar gedung pertunjukan bagi Ngatinah. Di Balai Pemuda, Ngatinah muda mengenal dunia pertunjukan seni tradisional. Dari panggung satu ke panggung lain, dari kota satu ke kota lainnya, ia lakoni sebagai seniman. Namun baginya, Balai Pemuda melampaui itu semua.
Tempat ini adalah simpul ingatan—ruang di mana seni pernah menjadi napas hidupnya, sekaligus jalan yang perlahan menuntunnya ke peran hidup yang lain: pendoa Jawa. Ya, Ngatinah menjalani lakon hidupnya sebagai penutur doa Jawa. Lakon hidup ini ia resapi setelah puluhan tahun berkesenian.
“Saya sebagai seniwati dan seniman Surabaya maupun budayawan Surabaya. Karena saya mengembalikan jati diri Nusantara di mana-mana saya sebagai pendoa Jawa untuk mengembalikan jati diri Jawa,” tuturnya.
Kalimat itu tidak lahir dari ruang diskusi kebudayaan atau kelas-kelas perkuliahan, yang memang tak pernah ia enyam. Pendoa Jawa Ngatinah, hasil dari perantauan panjang fisik dan batinnya yang membuat seni, luka, dan doa akhirnya bertemu pada satu titik yang sama.
Lahir Sebagai Seniman Ludruk THR
Jejak kesenian Ngatinah berawal sejak ia masih sangat muda. Tahun 1970-an, ia sudah berada di jantung kesenian rakyat Surabaya: Taman Hiburan Rakyat (THR). Tempat itu bukan sekadar ruang pertunjukan, melainkan dunia yang keras, riuh, sekaligus penuh solidaritas.
Di sanalah Ngatinah menyanyi, menari, menjadi penari ular, dan hidup bersama seniman-seniman yang menggantungkan hidup sepenuhnya pada dunia panggung. THR adalah sekolah kehidupan. Tidak ada glamor, tidak ada jaminan hari esok. Jika hari ini tampil, malam itu bisa makan. Jika tidak, ya bertahan dengan apa adanya.
Ngatinah bahkan tinggal di sana, tidur di area THR, punya kamar sendiri, dan bertahun-tahun menyatu dengan denyut hidup kesenian rakyat sampai tempat itu akhirnya ditutup. Dari sana ia belajar bahwa seni bukan sekadar bakat, melainkan ketahanan. Baginya, ini bukan sekadar pekerja, melainkan menghidupi kehidupan.
Kini ludruk THR, bak musnah seperti ruang-ruang pagelaran di sana yang rata dengan tanah. Tidak ada lagi riuh tepuk tangan penonton. Semua tergantikan dengan sunyi semata. Ngatinah selalu sedih mengingat nasib ludruk THR. Baginya itu bukan hanya tempat, melainkan rumah dari segala memori hidupnya dan ratusan seniman.
Dari THR, jalannya berlanjut ke dunia tarik suara, keroncong. Ia mengisi siaran di RRI dan TVRI, ruang yang menuntut disiplin dan pengendalian rasa. Lalu hidupnya kembali berbelok ketika ia tinggal di Prigen dan diajak menjadi sinden wayang kulit. Saat itu ia bahkan belum mengenal gamelan.
Namun seperti hidupnya sendiri, ia belajar sambil berjalan—masuk ke dunia karawitan, tembang, dan pitutur Jawa tanpa bangku sekolah, tanpa buku. Di masa inilah Ngatinah juga semakin menyatu dengan ludruk. Ia menjadi pemeran, pelawak, pengisi vokal.
Ludruk mengajarkannya spontanitas dan keberanian berbicara apa adanya. Tidak ada skenario hafalan. Semua lahir dari rasa dan respons di panggung. Ia memainkan peran mbok desa—perempuan kampung yang mengomel, marah, dan terluka, tetapi tetap berdiri.
Jalan Hidup Pendoa Jawa
Bahasa Suroboyoan yang lugas dan jenaka itu menjadi sekolah empati yang kelak sangat ia butuhkan. Namun di balik kesibukkan seni, hidup Ngatinah tidak ramah. Ia mengalami kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). “Saya sering zalimi dengan suami saya,” ungkap perempuan kelahiran 1958 ini lirih.
Luka itu membawanya pergi jauh—berjalan kaki dari Jawa Barat hingga Bali selama setahun, bertirakat, bertapa, tinggal di gunung. Ia tidak menemukan jawaban instan. Tetapi dari kegagalan itulah ia menemukan keberanian untuk bangkit sebagai perempuan yang memilih jalan hidupnya sendiri.
Dari laku itulah doa Jawa menemukan jalannya. Doa yang ia baca tidak ditulis, tidak dibukukan, tidak dihafalkan lewat teks. Semua hidup diingatan tubuh dan rasa. Ia tahu doa untuk kelahiran, tujuh bulanan, pernikahan, hingga kematian. Semua mengalir dari pengalaman, dari seni, dari luka.
Ngatinah menyebut dirinya bukan pendoa lintas agama, melainkan pendoa Jawa. Ia kemudian secara sadar memilih agama kepercayaan—Himpunan Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa (HPK). Pilihan itu ia jalani dengan penuh konsekuensi. Apa yang ia percaya dan jalani saat ini, membawa ketenangan batin. Ia ingin sesederhana mungkin dalam menjalani hidup dan berpikir.
Meski demikian, Ngatinah tidak memutus relasi dengan siapa pun. Justru pilihan hidupnya saat ini, membuat hatinya semakin lapang menerima apa adanya. Anak-anaknya nahdliyin dan lingkungannya mayoritas Islam. Ia tetap ikut pengajian, tahlilan, bahkan menjadi orang pertama yang merawat jenazah di kampungnya.
Kini, di usia senja, kesibukan Ngatinah justru semakin berwarna. Ia sering diajak komunitas lintas agama dan lintas budaya: dari padepokan, pondok pesantren, balai budaya, hingga forum-forum dialog iman. Ia memimpin doa Jawa—sebagai wakil Jawa—tanpa merasa lebih tinggi dari siapa pun.
Pernah pula ia berdiri di Istana Negara, mewakili Komnas Perempuan dalam peringatan Bahasa Ibu. Di luar itu semua, hidupnya tetap sederhana. Ia memijat di rumah, membantu persalinan, dan melayani siapa pun yang meminta tolong sebisanya. Ia sebut itu sebagai darma—kewajiban hidup selama masih diberi napas.
“Saya enggak pamrih apa pun, saya enggak niat jadi orang sakti. Semuanya hanya darma,” tegasnya.
Malam di Balai Pemuda itu, ia hanya penonton, bukan penampil. Tetapi di matanya, seni yang hidup malam itu adalah bagian dari dirinya sendiri—jejak panjang yang pernah ia lalui, yang tak pernah benar-benar ia tinggalkan. Ngatinah selalu kembali. Merawat seni, identitas budaya yang ia junjung tinggi-tinggi. Di Surabaya, cintanya pada seni berakar kuat.
Ngatinah telah berjalan jauh: dari panggung yang riuh, ludruk yang jujur, dalam kesuntian luka, hingga doa yang lirih mengalir. Kini ia berjalan di antara manusia-manusia dengan keyakinan berbeda, membawa satu hal yang sama—bahwa seni dan doa, pada akhirnya, adalah bahasa untuk saling memahami.
Ulon anembah dumateng Gosti Hyang Moho Agong titah padoko ulon nyuwon kalenggahan neng Gesang Kulo engkang Gumelar miwah engkang dereng gumelar. Ulon anembah dumateng Gosti Hyang Moho Luhor titah padoko ulon nyuwon luhoreng Budhi pangerti.
(Saya menyembah Tuhan Hyang Maha Agong yang selalu memberikan kedudukan didalam kehidupan dan sampe sebelum ada kehidupan di dalam semesta ini. Saya menyembah Tuhan yang Maha Suci titah ini meminta suci lahir maupun batin)